Sabtu, 05 Maret 2011 0 komentar

PENALARAN


PENALARAN

LATAR BELAKANG

Penalaran adalah suatu proses berfikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Sebagai suatu kegiatan berfikir penalaran memiliki ciri-ciri tertentu. Cirinya yaitu proses berpikir logis, dimana berpikir logis diartikan sebagai kegiatan berpikir menurut pola tertentu atau dengan logika tertentu serta sifat analitik dari proses berpikirnya. Sifat analitik yang merupakan konsekuensi dari adanya suatu pola berpikir tertentu.
Deduktif adalah cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Penarikkan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme.
Silogisme disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogisme ini disebut sebagai premis yang kemudian dibedakan menjadi premsi mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersbut.
Berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.








PEMBAHASAN

1.      Pengertian Penalaran
Penalaran adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu simpulan. Data atau fakta yang akan dinalar itu boleh benar atau boleh tidak benar. Di sinilah letaknya kerja penalaran. Orang akan menerima data dan fakta yang benar dan tentu saja akan menolak fakta yang belum jelas kebenarannya. Data yang dapat dipergunakan dalam penalaran untuk mencapai satu simpulan ini harus berbentuk kalimat pernyataan. Kalimat pernyataan yang dapat dipergunakan sebagai data itu disebut proposisi.

2.      Proposisi dan Term
Term adalah kata atau kelompok kata yang dapat dijadikan subjek atau predikat dalam sebuah kalimat proposisi.
Contoh:
Semua tebu manis
Semua tebu adalah term.
manis adalah term.

Dalam kalimat Bumi adalah planet, kata bumi dan planet adalah term. Term dan proposisi mempunyai hubungan yang erat. Proposisi adalah pernyataan tentang hubungan yang terdapat di antara subjek dan predikat. Dengan kata lain, proposisi adalah pernyataan yang lengkap dalam bentuk subjek-predikat atau term-term yang membentuk kalimat.

Suatu proposisi mempunyai subjek dan predikat. Dengan demikian, proposisi pasti berbentuk kalimat, tetapi tidak setiap kalimat dapat digolongkan ke dalam proposisi. Hanya kalimat berita yang netral yang dapat disebut proposisi. Kalimat tanya, kalimat perintah, kalimat harapan, dan kalimat inversi tidak dapat disebut proposisi. Kalimat-kalimat itu dapat dijadikan proposisi apabila diubah bentuknya menjadi kalimat berita yang netral.
Contoh:
a.       Ayam adalah burung.
b.      Indonesia menjadi negara makmur.
c.       Kamu berdiri di pinggir pantai.

Dari uraian di atas ini dapat dikatakan bahwa proposisi itu harus terdiri atas subjek dan predikat yang masing-masing dapat diwujudkan dalam kelompoknya sehingga dapat dilihat hubungan kelompok subjek dan kelompok predikat.

3.      Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif bertolak dari sebuah konklusi atau simpulan yang di dapat dari satu atau lebih pernyataan yang lebih umum. Simpulan yang diperoleh tidak mungkin lebih umum daripada proposisi tempat menarik simpulan itu. Proposisi tempat menarik simpulan itu disebut premis.

Penarikan simpulan (konklusi) secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat pula dilakukan secara tak langsung.
a.       Menarik Simpulan secara Langsung
Simpulan (konklusi) secara langsung ditarik dari satu premis. Sebaliknya, konklusi yang ditarik dari dua premis disebut simpulan taklangsung.
Misalnya:
·         Semua S adalah P. (premis)
Sebagian P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua ikan berdarah dingin. (premis)
Sebagian yang berdarah dingin adalah ikan. (simpulan)
·         Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Tidak satu pun P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor nyamuk pun adalah lalat. (premis)
Tidak seekor lalat pun adalah nyamuk. (simpulan)
·         Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Semua rudal adalah senjata berbahaya. (premis)
Tidak satu pun rudal adalah senjata tidak berbahaya. (simpulan)
·         Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor pun harimau adalah singa. (premis)
Semua harimau adalah bukan singa. (simpulan)
·         Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Tidak satu pun tak-P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua gajah adalah berbelalai. (premis)
Tidak satu pun gajah adalah tak berbelalai. (simpulan)
Tidak satu pun yang takberbelalai adalah gajah. (simpulan)

b.      Menarik Simpulan secara Tidak Langsung
Penalaran deduksi yang berupa penarikan simpulan secara tidak langsung memerlukan dua premis sebagai data. Dari dua premis ini akan dihasilkan sebuah simpulan. Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat khusus.

Untuk menarik simpulan secara tidak langsung ini, kita memerlukan suatu premis (pernyataan dasar) yang bersifat pengetahuan yang semua orang sudah tahu, umpamanya setiap manusia akan mati, semua ikan berdarah dingin, semua sarjana adalah lulusan perguruan tinggi, atau semua pohon kelapa berakar serabut.

Beberapa jenis penalaran deduksi dengan penarikan secara tidak langsung sebagai berikut.
·         Silogisme Kategorial
Silogisme kategorial ialah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Dua proposisi merupakan premis dan satu proposisi merupakan simpulan. Premis yang bersifat umum disebut premis mayor dan premis yang bersifat khusus disebut premis minor. Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term minor dan predikat simpulan disebut term mayor.
Contoh:
Semua manusia bijaksana.
Semua polisi adalah manusia.
Jadi, semua polisi bijaksana.

Untuk menghasilkan simpulan harus ada term penengah sebagai penghubung antara premis mayor dan premis minor. Term penengah dan silogisme di atas ialah manusia. Term penengah hanya terdapat pada premis, tidak terdapat pada simpulan. Kalau term penengah tidak ada, simpulan tidak dapat diambil.
Contoh:
Semua manusia tidak bijaksana.
Semua kera bukan manusia.
Jadi, (tidak ada simpulan).

Aturan umum silogisme kategorial adalah sebagai berikut.
a)      Silogisme harus terdiri atas tiga term, yaitu term mayor, term minor, dan term penengah.
b)      Silogisme terdiri atas tiga proposisi, yaitu premis mayor, premis minor, dan simpulan.
c)      Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
d)     Bila salah satu premisnya negatif, maka simpulan pasti negatif.
e)      Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
f)       Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
g)      Bila salah satu premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
h)      Dari premis mayor yang khusus dan premis minor yang negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.

·         Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi kondisional hipotesis.
Kalau premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Kalau premis minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.
Contoh:
Jika besi dipanaskan, besi akan memuai.
Besi dipanaskan.
Jadi, besi memuai.
Jika besi tidak dipanaskan, besi tidak akan memuai.
Besi tidak dipanaskan.
Jadi, besi tidak akan memuai.

·         Silogisme Alternatif
Silogisme Alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Kalau premis minornya membenarkan salah satu alternatif, simpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh:
Dia adalah seorang kiai atau profesor.
Dia seorang kiai.
Jadi, dia bukan seorang profesor.
Dia adalah seorang kiai atau profesor.
Dia bukan seorang kiai.
Jadi, dia seorang profesaor.

·         Entimen
Sebenarnya silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun dalam lisan. Akan tetapi, ada bentuk silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara umum. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh:
Semua sarjana adalah orang cerdas.
Ali adalah seorang sarjana.
Jadi, Ali adalah orang cerdas.

Dari silogisme ini dapat ditarik satu entimen, yaitu “Ali adalah orang cerdas karena dia adalah seorang sarjana”.
Beberapa contoh entimen:
Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.

Dengan demikian, silogisme dapat dijadikan entimen. Sebaliknya, sebuah entimen juga dapat diubah menjadi silogisme.
4.      Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah penalaran yang bertolak dari pernyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum. Dengan kata lain, simpulan yang diperoleh tidak lebih khusus daripada pernyataan (premis). Beberapa bentuk penalaran induktif adalah sebagai berikut.
a.       Generalisasi
Generalisasi ialah proses penalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum. Dari beberapa gejala dan data, kita ragu-ragu mengatakan bahwa “Lulusan sekolah A pintar-pintar.” Hal ini dapat kita simpulkan setelah beberapa data sebagai pernyataan memberikan gambaran seperti itu.
Contoh:
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jadi, jika dipanaskan, logam memuai.
Sahih atau tidak sahihnya simpulan dari generalisasi itu dapat dilihat dari hal-hal yang berikut.
·         Data itu harus memadai jumlahnya. Makin banyak data yang dipaparkan, makin sahih simpulan yang diperoleh.
·         Data itu harus mewakili keseluruhan. Dari data yang sama itu akan dihasilkan simpulan yang sahih.
·         Pengecualian perlu diperhitungkan karena data-data yang mempunyai sifat khusus tidak dapat dijadikan data.

b.      Analogi
Analogi adalah cara penarikan penalaran secara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
Contoh:
Nina adalah lulusan akademi A.
Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Ali adalah lulusan akademi A.
Oleh sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Tujuan penalaran secara analogi adalah sebagai berikut.
·         Analogi dilakukan untuk meramalkan kesamaan.
·         Analogi digunakan untuk menyingkapkan kekeliruan.
·         Analogi digunakan untuk menyusun klasifikasi.

c.       Hubungan Kausal
Hubungan kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Misalnya, tombol ditekan, akibatnya bel berbunyi. Dalam kehidupan kita sehari-hari, hubungan kausal ini sering kita temukan. Hujan turun dan jalan-jalan becek. Ia kena penyakit kanker darah dan meninggal dunia. Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, tiga hubungan antarmasalah, yaitu sebagai berikut.
·         Sebab-Akibat
Sebab-akibat ini berpola A menyebabkan B. di samping itu, hubungan ini dapat pula berpola A menyebabkan B, C, D, dan seterusnya. Jadi, efek dari satu peristiwa yang dianggap penyebab kadang-kadang lebih dari satu.
·         Akibat-Sebab
Akibat-sebab ini dapat kita lihat pada peristiwa seseorang yang pergi ke dokter. Ke dokter merupakan akibat dan sakit merupakan sebab, jadi mirip dengan entimen. Akan tetapi, dalam penalaran jenis akibat-sebab ini, peristiwa sebab merupakan simpulan.
·         Akibat-Akibat
Akibat-akibat adalah suatu penalaran yang menyiratkan penyebabnya. Peristiwa “akibat” langsung disimpulkan pada suatu “akibat” yang lain. Contohnya adalah sebagai berikut.
Ketika pulang dari pasar, Ibu Sonya melihat tanah di halamannya becek. Ibu langsung menyimpulkan bahwa kain  jemuran di belakang rumahnya pasti basah.

5.      Salah Nalar
Gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat disebut salah nalar. Salah nalar ini disebabkan oleh ketidaktepatan orang mengikuti tata cara pikirannya. Apabila kita perhatikan beberapa kalimat dalam bahasa Indonesia secara cermat, kadang-kadang kita temukan beberapa pernyataan atau premis tidak masuk akal. Kalimat-kalimat yang seperti itu disebut kalimat dari hasil salah nalar. Kalau kita pilah-pilah beberapa bentuk salah nalar itu, kita dapat membagi salah nalar itu dalam beberapa macam, yaitu sebagai berikut.
a)      Deduksi yang Salah
Salah nalar yang disebabkan oleh deduksi yang salah merupakan salah nalar yang amat sering dilakukan orang. Hal ini terjadi karena orang salah mengambil simpulan dari suatu silogisme dengan diawali oleh premis yang salah atau tidak memenuhi syarat.
Beberapa contoh salah nalar jenis ini adalah sebagai berikut.
·         Pak Ruslan tidak dapat dipilih sebagai lurah di sini karena dia miskin.
·         Bunga anggrek sebetulnya tidak perlu dipelihara karena bunga anggrek banyak ditemukan dalam hutan.
·         Dia pasti cepat mati karena dia menderita penyakit jantung.

b)      Generalisasi Terlalu Luas
Salah nalar ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukung generalisasi tidak seimbang besarnya generalisasi itu sehingga simpulan yang diambil menjadi salah. Beberapa contoh salah nalar jenis ini adalah sebagai berikut.
·         Gadis Bandung cantik-cantik.
·         Kuli pelabuhan jiwanya kasar.
·         Orang Makasar pandai berdayung.

c)      Pemilihan Terbatas pada Dua Alternatif
Salah nalar ini dilandasi oleh penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan “itu” atau “ini”.
Beberapa contoh penalaran yang salah seperti itu adalah sebagai berikut.
·         Engkau harus mengikuti kehendak ayah, atau engkau harus berangkat dari rumah ini.
·         Dia membakar rumahnya agar kejahatannya tidak diketahui orang.
·         Engkau harus memilih antara hidup di Jakarta dengan serba kekurangan dan hidup di kampung dengan menanggung malu.

d)     Penyebab yang Salah Nalar
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengkibatkan terjadi pergeseran maksud. Orang tidak menyadari bahwa yang dikatakannya itu adalah salah. Beberapa contoh salah nilai yang termasuk jenis ini adalah sebagai berikut.
·         Matanya buta sejak beberapa waktu yang lalu. Itu tandanya dia melihat gerhana matahari total.
·         Sejak ia memperhatikan dan membersihkan kuburan para leluhurnya, dia hamil.
·         Kalau ingin dikenal orang, kita harus memakai kacamata.

e)      Analogi yang Salah
Salah nalar dapat terjadi apabila orang yang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain.
Beberapa contoh jenis salah nalar seperti ini adalah sebagai berikut.
·         Sumini, seorang alaumni Universitas Indonesia, dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Oleh sebab itu, Tata, seorang alumni Universitas Indonesia, tentu dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.
·         Pada hari Senin, langit di sebelah barat menghitam, angin bertiup kencang, dan tidak lama kemudian turun hujan. Pada hari Rabu, langit sebelah barat menghitam, angin bertiup kencang. Hal ini menandakan bahwa tidak lama lagi akan turun hujan.

f)       Argumentasi Bidik Orang
Salah nalar jenis ini adalah salah nalar yang disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembanya. Dengan kata lain, sesuatu itu selalu dihubungkan dengan orangnya. Beberapa contoh salah nalar jenis ini adalah sebagai berikut.
·         Program keluarga berencana tidak dapat berjalan di desa kami karena petugas keluarga berencana itu mempunyai anak enam orang.
·         Kamu tidak boleh kawin dengan Verdo karena orang tua Verdo itu bekas penjahat.
·         Dapatkah dia memimpin kita kalau dia sendiri belum lama ini bercerai dengan istrinya?

g)      Meniru-niru yang Sudah Ada
Salah nalar jenis ini adalah salah nalar yang berhubungan dengan anggapan bahwa sesuatu itu dapat kita lakukan kalau atasan kita melakukan hal itu. Beberapa contoh salah nalar jenis ini adalah sebagai berikut.
·         Peserta penataran boleh pulang sebelum waktunya karena para undangan yang menghadiri acara pembukaan pun sudah pulang semua.
·         Siswa SMA seharusnya dibenarkan mempergunakan kalkulator ketika menyelesaikan soal matematika sebab profesor pun menggunakan kalkulator ketika menyelesaikan soal matematika.

h)   Penyamarataan Para Ahli
Salah nalar ini disebabkan oleh anggapan orang tentang berbagai ilmu dengan pandangan yang sama. Hal ini akan mengakibatkan kekeliruan mengambil simpulan. Beberapa contoh salah nalar jenis ini adalah sebagai berikut.
·         Perkembangan sistem pelayaran kita dapat dibahas secara panjang lebar oleh Ahmad Panu, seorang tukang kayu yang terkenal itu.
·         Pembangunan pasar swalayan itu sesuai dengan saran Toto, seorang ahli di bidang perikanan.




















SIMPULAN

Penalaran adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu simpulan. Data atau fakta yang akan dinalar itu boleh benar atau boleh tidak benar.
Term adalah kata atau kelompok kata yang dapat dijadikan subjek atau predikat dalam sebuah kalimat proposisi. Proposisi adalah pernyataan yang lengkap dalam bentuk subjek-predikat atau term-term yang membentuk kalimat.
Penalaran deduktif merupakan sebuah konklusi atau simpulan yang di dapat dari satu atau lebih pernyataan yang lebih umum. Penarikan simpulan (konklusi) secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat pula dilakukan secara tak langsung.
a.       Menarik Simpulan secara Langsung
Simpulan (konklusi) secara langsung ditarik dari satu premis. Sebaliknya, konklusi yang ditarik dari dua premis disebut simpulan taklangsung.
b.      Menarik Simpulan secara Tidak Langsung
Penalaran deduksi yang berupa penarikan simpulan secara tidak langsung memerlukan dua premis sebagai data. Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat khusus.
Beberapa jenis penalaran deduksi dengan penarikan secara tidak langsung sebagai berikut.
·         Silogisme Kategorial
·         Silogisme Hipotesis
·         Silogisme Alternatif
·         Entimen
Penalaran induktif adalah penalaran yang bertolak dari pernyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum. Beberapa bentuk penalaran induktif adalah sebagai berikut.
a.       Generalisasi
b.      Analogi
c.       Hubungan Kausal
Salah nalar merupakan suatu gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat. Kita dapat membagi salah nalar itu dalam beberapa macam, yaitu sebagai berikut.
a.       Deduksi yang Salah
b.      Generalisasi Terlalu Luas
c.       Pemilihan Terbatas pada Dua Alternatif
d.      Penyebab yang Salah Nalar
e.       Analogi yang Salah
f.       Argumentasi Bidik Orang
g.      Meniru-niru yang Sudah Ada
h.      Penyamarataan Para Ahli



DAFTAR PUSTAKA


Arifin, E. Zaenal & Tasai, S. Amran. 2008. Cermat Berbahasa Indonesia, Jakarta: Akamedika Pressindo.


Jumat, 07 Januari 2011 0 komentar

PENGARUH PROMOSI TERHADAP PENINGKATAN VOLUME PENJUALAN PADA DISTRIBUTION OUTLET (DISTRO) “WHY NOT” DI BEKASI


BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A.     Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai Pengaruh Promosi terhadap Peningkatan Volume Penjualan pada Distro Why Not Bekasi serta berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah disajikan sebelumnya, maka penulis dapat menarik kesimpulan serta beberapa saran untuk bahan masukan dan pertimbangan yang mungkin dapat dipergunakan sebagai solusi dalam penyelesaian masalah.

Berikut kesimpulan yang dihasilkan oleh penulis:
1.      Pelaksanaan kegiatan promosi pada Distro Why Not merupakan suatu kegiatan dalam meningkatkan penjualan dengan memperkenalkan produknya kepada masyarakat dan menarik minat mereka untuk menggunakan produk tersebut dalam mempromosikan produknya, Distro Why Not menggunakan media yang sesuai dengan situasi dan kondisi untuk memberikan dan menyampaikan informasi yang jelas kepada masyarakat.
2.      Berdasarkan perhitungan analisis korelasi antara biaya promosi dengan hasil penjualan yang diperoleh selama 6 bulan periode (Januari-Juni 2010) menghasilkan r = 0.617 yang berarti ada hubungan  kuat dan positif yang menunjukkan bahwa peningkatan biaya promosi pada umumnya mempengaruhi peningkatan volume penjualan.
3.      Berdasarkan perhitungan koefisien determinasi antara biaya promosi dengan hasil penjualan yang diperoleh selama 6 bulan periode (Januari-Juni 2010) menghasilkan KD = 38.06% yang berarti bahwa besarnya kontribusi antara biaya promosi dalam meningkatkan volume penjualan adalah sebesar 38.06% sedangkan sisanya 61.94% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti pengembangan produk, harga, selera konsumen dan lain-lainnya.
4.      Berdasarkan perhitungan dengan persamaan regresi antara biaya promosi dengan hasil penjualan yang diperoleh selama 6 bulan periode (Januari-Juni 2010) menghasilkan a = 12.4087 (nilai konstan), artinya apabila x = 0 maka Y = 12.2087 atau apabila perusahaan tidak mengeluarkan biaya promosi maka nilai penjualan sama dengan 12,408,700. Maka menghasilkan Y = 12.4087 + 1.9654x yang berarti apabila terjadi peningkatan biaya promosi sebesar Rp 1,000,000 maka penjualan akan mengalami peningkatan sebesar Rp 1.965,400 ini berarti besarnya promosi yang dilakukan oleh Distro Why Not sangat berpengaruh dan menentukan hasil penjualan yang akan dicapai Distro Why Not.

B.      Saran
Berdasarkan pembahasan yang diberikan pada bab-bab sebelumnya serta kesimpulan di atas, maka penulis memberikan saran atau bahan masukan dan pertimbangan yang diharapkan berguna bagi Distro Why Not Bekasi.

Berikut saran yang dihasilkan oleh penulis:
1.      Distro Why Not sebaiknya terus memperhatikan kegiatan yang dilakukan oleh distro pesaing. Hal ini bertujuan untuk mengetahui cara apa saja yang dilakukan distro pesaing sehingga Distro Why Not dapat mengobservasi usaha-usaha distro pesaing dengan jalan merubah teknik-teknik penjualan bila perlu.
2.      Membuat program promosi yang efektif dengan menyampaikan pesan promosi yang mudah diterima dan dipahami oleh konsumen dan juga dapat menambah persepsi tentang Distro Why Not.
3.      Mempelajari selalu akan kebutuhan konsumen, serta memberikan pelayanan yang memuaskan dan menetapkan harga yang dapat bersaing dengan distro sejenis lainnya.
2 komentar

PENGARUH PROMOSI TERHADAP PENINGKATAN VOLUME PENJUALAN PADA DISTRIBUTION OUTLET (DISTRO) “WHY NOT” DI BEKASI


BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN

A.     Sejarah Distro Why Not

Seperti halnya Distro yang berada di Bandung, munculnya permintaan pakaian yang lebih banyak dari kalangan anak muda dan ide-ide kreatif baru bermunculan dari para designer mengakibatkan pangsa pasar di bisnis Distro terbuka lebar dan potensial. Hal ini rupanya dapat dilihat oleh pemilik Distro Why Not sebagai peluang untuk membangun usahanya di kota Bekasi. Distro Why Not berdiri pada awal tahun 2003 yang didirikan oleh Hari Firmanto. Distro ini berada di 5 tempat, yaitu di daerah Jl. Raya Pondok Ungu Permai,  Jl. K.H Agus Salim, Pekayon, Jatibening dan Karawang. Keseluruhannya berada di daerah Bekasi serta Karawang, Jawa Barat. Pemilik distro membangun usahanya di Bekasi karena ingin memenuhi keinginan masyarakat khususnya anak muda di kota Bekasi akan kebutuhan pakaian yang modis serta modern. Distro ini menjual berbagai macam produk seperti pakaian, celana, jaket/sweeter, tas, sandal, topi, gelang, dompet serta berbagai macam perlengkapan aksesoris yang sedang trend saat ini. Distro Why Not mempromosikan produknya melalui berbagai macam media, seperti melalui media online internet, iklan, pameran/stand, maupun sebagai sponsor untuk grup band.

B.      Analisa Data Penjualan Periode Bulan Januari - Juni 2010
Setiap perusahaan dikatakan berhasil apabila perusahaan dapat mencapai tujuan yaitu memperoleh keuntungan yang maksimal. Hal ini ditentukan oleh peningkatan penjualan produk setiap bulannya. Untuk mengetahui penjualan yang diperoleh Distro Why Not, maka penulis menyajikan perhitungan yang berdasarkan presentase tingkat pertumbuhan hasil penjualan.

Tabel 1
Data Hasil Penjualan Distro Why Not
Periode Bulan Januari – Juni 2010


     Sumber: Distro Why Not yang diolah penulis.

Rumus yang digunakan untuk menghitung persentase pertumbuhan penjualan pada Distro Why Not adalah sebagai berikut:

Berdasarkan tabel 1 dapat disimpulkan bahwa penjualan yang diterima oleh Distro Why Not yaitu pada bulan Januari besarnya penjualan 18,295,500. Kemudian pada bulan Februari Distro Why Not mengalami kenaikan penjualan sebesar Rp 20,253,000  dengan selisih kenaikan sebesar Rp 1,957,500 dan persentase kenaikan sebesar 10.70%. Sedangkan pada bulan Maret Distro Why Not mengalami penurunan penjualan sebesar Rp 17,059,000 dengan persentase sebesar 15,77% dan selisih penurunan sebesar Rp 3,194,000. Kemudian pada bulan April Distro Why Not mengalami kenaikan penjualan kembali sebesar Rp 17,882,000 dengan persentase kenaikan sebesar 4.82% dan selisih kenaikan sebesar Rp 823,000. Kemudian pada bulan Mei Distro Why Not juga masih mengalami kenaikan penjualan sebesar Rp 20,318,000 dengan selisih kenaikan sebesar Rp  2,436,000 dan persentase kenaikan sebesar 13.62%, namun pada bulan Juni Distro Why Not mengalami penurunan penjualan kembali sebesar Rp 17,671,000 dengan persentase 13.03% dan selisih penurunan penjualan sebesar Rp 2,647,000. Untuk lebih jelas tentang hasil penjualan Distro Why Not penulis akan menggambarkan grafik sebagai berikut:

Grafik 1
Tingkat Hasil Penjualan Distro Why Not (Dalam Jutaan Rupiah)

Dari grafik 1 dapat dilihat bahwa hasil penjualan Distro Why Not mengalami peningkatan dua bulan pertama pada tahun 2010. Namun pada bulan Maret Distro Why Not mengalami penurunan hasil penjualan yang cukup signifikan, tetapi diikuti dengan peningkatan hasil penjualan pada bulan April dan Mei meskipun terjadi penurunan kembali pada bulan selanjutnya. Hal ini dapat ditunjukkan oleh grafik di atas yang menunjukkan hasil penjualan yang fluktuatif.


C.      Analisa Biaya Promosi Periode Bulan Januari – Juni 2010
Suatu Distro melakukan kegiatan promosi yang lancar agar produk yang dijual dikenali oleh masyarakat dan pada akhirnya berminat untuk membelinya. Untuk melaksanakan kegiatan promosi Distro mengeluarkan biaya yang cukup tinggi dan hal ini membutuhkan perencanaan yang cukup matang serta efektif untuk mengetahui seberapa besar biaya promosi yang dikeluarkan oleh Distro Why Not, maka penulis menyajikan tabel perhitungan yang berdasarkan persentase pertumbuhan biaya promosi.

Tabel 2
Data Biaya Promosi Distro Why Not
Periode Bulan Januari – Juni 2010

 
     Sumber: Distro Why Not yang diolah penulis.

Rumus yang digunakan untuk menghitung persentase biaya promosi pada Distro Why Not adalah sebagai berikut:




Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa biaya promosi yang dikeluarkan oleh Distro Why Not yaitu pada bulan Januari Rp 2,639,200 dan pada bulan Februari sebesar Rp 3,137,750 pada bulan ini mengalami peningkatan sebesar Rp 498,550 dengan persentase 18.89% untuk biaya promosi. Sedangkan untuk bulan Maret biaya promosi mengalami penurunan sebesar Rp 2,884,850 dengan selisih penurunan biaya sebesar Rp 252,900 atau dengan persentase sebesar 8.06%. Sementara untuk bulan April mengalami peningkatan biaya promosi sebesar Rp 3,281,800 dengan persentase 13.76% dan selisih kenaikan yaitu sebesar Rp 396,950. Selanjutnya, pada bulan Mei juga mengalami kenaikan biaya promosi sebesar Rp 3,911,850 dengan persentase 19.20% dan selisih kenaikan sebesar Rp 630,050. Namun, pada bulan Juni mengalami penurunan biaya promosi sebesar Rp 2,980,500 dengan persentase 23.81% dan selisih penurunan biaya promosi sebesar Rp 931,350.
Untuk lebih jelasnya mengenai biaya promosi penulis  menggambarkannya dalam bentuk grafik sebagai berikut:

Grafik 2
Data Biaya Promosi Distro Why Not



Dalam grafik 2 dapat dilihat bahwa hasil penjualan Distro Why Not mengalami peningkatan dua bulan pertama pada tahun 2010. Namun pada bulan Maret Distro Why Not mengalami penurunan hasil penjualan yang cukup signifikan, tetapi diikuti dengan peningkatan hasil penjualan pada bulan April dan Mei meskipun terjadi penurunan kembali pada bulan selanjutnya. Hal ini dapat ditunjukkan oleh grafik di atas yang menunjukkan hasil penjualan yang fluktuatif.


D.     Pengaruh Promosi Dalam Meningkatkan Volume Penjualan Pada Distro Why Not
Promosi sangat terpengaruh terhadap hasil penjualan suatu Distro karena dengan adanya kegiatan promosi, Distro berharap dapat mengalami peningkatan volume penjualan pada setiap bulannya.

Tabel 3
Perbandingan Biaya Promosi dan Hasil Penjualan
Distro Why Not

 
    Sumber: Distro Why Not yang diolah penulis.


E.      Analisa Data
Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh antara biaya promosi dalam meningkatkan penjualan Distro Why Not, maka penulis menggunakan analisa persamaan regresi, koefisien korelasi, dan koefisien determinasi. Tabel berikut menyajikan perhitungan koefisien antara biaya promosi dengan penjualan.

Tabel 4
Perhitungan Korelasi Biaya Promosi dengan Penjualan
Distro Why Not Periode Bulan Januari – Juni 2010
(Dalam Jutaan Rupiah)

     Sumber: Distro Why Not yang diolah penulis.

1.      Untuk menghitung kuat atau tidaknya hubungan antara biaya promosi dalam meningkatkan volume penjualan dapat dihitung dengan menggunakan analisis koefisien korelasi. Adapun rumusnya sebagai berikut:


Dimana:
r = Koefisien Korelasi
n = Jumlah bulan yang diteliti
X = (Variabel Independent) Biaya Promosi
Y = (Variabel Dependent) Hasil Penjualan

Besar nilai koefisien korelasi :

Artinya:
a.      Nilai r = -1, maka hubungan antara variabel X dan Variabel Y sangat kuat dan bersifat negatif.
b.      Nilai r = 0, atau mendekati 0, maka hubungan antara variabel X dan variabel Y tidak ada sama sekali atau lemah.
c.        Nilai r = +1, atau mendekati 1, maka hubungan antara variabel X dan variabel Y  kuat dan bersifat positif.
Perhitungan korelasi antara biaya promosi dengan hasil penjualan adalah sebagai berikut:


Dari hasil perhitungan analisis korelasi di atas antara biaya promosi dengan volume penjualan Distro Why Not dari bulan Januari – Juni 2010 menghasilkan r = 0.617, yang berarti ada hubungan  kuat dan positif yang menunjukkan bahwa peningkatan biaya promosi pada umumnya mempengaruhi peningkatan volume penjualan.

2.      Untuk menghitung seberapa besar kontribusi hubungan antara biaya promosi dalam meningkatkan volume penjualan dapat dihitung dengan menggunakan rumus koefisien determinasi. Dimana perhitungan besar kontribusi antara biaya promosi dengan hasil penjualan adalah sebagai berikut:


Dari perhitungan di atas diketahui besarnya KD = 38.06% yang berarti bahwa besarnya kontribusi antara biaya promosi dalam meningkatkan volume penjualan adalah sebesar 38.06% sedangkan sisanya 61.94% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti pengembangan produk, harga, selera konsumen dan lain-lainnya. Dengan demikian dari hasil yang dicapai Distro Why Not dalam enam bulan terakhir (Januari – Juni 2010) telah membuktikan bahwa kegiatan promosi telah berpengaruh dengan baik dalam peningkatan volume penjualan, karena jika biaya promosi naik penjualan pun akan naik tetapi jika biaya promosi diturunkan penjualan pun akan menurun.

3.      Untuk menghitung seberapa besar pengaruh antara biaya promosi terhadap peningkatan volume penjualan dapat dihitung dengan menggunakan analisis persamaan regresi.
Rumus persamaan regresi sebagai berikut:



Dimana:





Apabila X = 0, maka Y = 12.4087 atau apabila Distro Why Not tidak mengeluarkan biaya promosi maka nilai penjualan sama dengan 12,408,700.
Persamaan fungsinya menjadi Y = 12.4087 + 1.9654X ini berarti apabila ada peningkatan biaya promosi sebesar 1,000,000 maka penjualan akan mengalami peningkatan sebesar 1.9654 x 1,000,000  = Rp 1,965,400.
 
;